Senin, 04 Juni 2012

Semesta Mungil Tanpa Keraton

Aku jatuh cinta. Pada seorang Dalang. Dalang yang hanya bisa aku pandagi lewat balik kelir. Dalang yang sosoknya hanya terbayang samar, lewat pantulan blencong yang bergoyang kesana kemari ditiup angin.

Sejak menyaksikanya pertama kali, aku tak pernah luput hadir dalam setiap pertunjukanya. Duduk pada bangku yang sama, melihatnya dengan cara yang sama. Dari sudut yang sama. Selalu sama, seperti pertama kali aku menyaksikanya tempo lalu. Masih dalam ritme kekaguman yang sama, masih dalam ketenggengan yang sama setiap kali sosoknya tanpa sengaja terpantul sedikit lebih jelas dari biasanya.

Aku jatuh cinta. Kian hari, perasaan itu kian beranak pinak. Tak terhitung berapa macam rindu cemburu yang telah menggauli nurani sampai saat ini. Tak terbilang berapa banyak detik yang harus aku bunuh, kala menanti sang dalang beraksi. Tak terbayang, betapa ingin aku robek bentang putih itu saking cemburunya aku melihat semua mata memandang pantulannya penuh minat.

Hari itu, semua rasa membuncah. Tak lagi mampu aku tanggung. Maka berdirilah aku di balik panggung. Menunggu sang dalang untuk kembali beraksi. Aku katakan semua. Bahwa aku tengah jatuh cinta padanya.

Sang dalang hanya tersenyum, lantas bertanya, "Bagaimana bisa? Kenapa kepada saya?"

Aku hanya bisa tertunduk. Tak bisa kutemukan jawaban-jawaban yang mampu melegakan sang Dalang.  Bagaimana kujelaskan tentang kekagumanku pada bayang-bayang yang terpantul pada sebatas kain? Bagaimana bisa aku jelaskan tentang kecintaanku pada liukan jemarinya? Kata apa yang harus aku pakai untuk menerangkan kecanduanku pada kisah-kisah yang dilantunkanya? Bagaimana harus kuterangkan tentang sudut-sudut yang sama itu? Tentang ritme yang tak berubah? Bagaimana bisa aku jelaskan tentang macam-macam cemburu yang memperkosaku belakangan ini? Tentang gelisah yang rasanya hampir menelanku bulat-bilat tiap waktu? Bagaimana harus aku nyatakan betapa ingin aku singkap bentang kain itu? Bagaiamana caranya? Aku dibuatnya kehilangan kata.

Aku jatuh cinta. Tidakkah itu merangkum segala penjelsan?

Sang dalang tersenyum sekilas. Mulai angkat bicara. Menjelaskan kondisinya yang hanya bisa aku dengar samar. Aku terlalu sibuk menyeka apa yang tiba-tiba mengalir.  Dalam isak, aku sanksi sendiri, aku jatuh cinta padamu, tuan Dalang. Masihkah itu butuh penjelasan? Lalu harus kemana aku beroleh jawaban untuk melegakanmu? Tidakkah bisa kamu mengerti bahwa itu pertaruhan sebuah harga diri? Hari itu, anak sungai baru kiranya akan segera muncul, jika aku tak segera mengakhiri sedu sedan.

Aku tak pernah lagi datang untuk menyaksikan sang dalang beraksi. Mungkin nanti, saat aku sudah bisa memaklumi sosok dibalik kelir itu lagi.

Aku hanya berharap, suatu saat, sang Dalang akan menyadari ada yang rumpang dari deretan bangku penonton itu. Dan itu tempatku.

Hai tuan Dalang, tidakkah cintaku begitu sederhana?


  • Oleh: Perempuan, di barisan kursi paling depan.

________________________________________

Duh, Gustiiiiii... Aku tidak pernah ikut serujuk ketika hidup selalu mendahulukan kepentingan para lelaki. Tetapi, benarkah semesta ini Kau ciptakan hanya untuk mereka, tanpa menyisakan secuil pun, bahkan seukuran rambut, bagi sebentuk mimpi wanita biasa, dia, yang ingin mendapatkan sebentuk cinta sederhana. Tak perlu yang serumit jalinan satelit.

***
Wayang-wayang yang kau lihat seperti menjelma hidup. Riwayatnya berkilau, geraknya bernapas dan suaranya detak jantung. Aku berhasil menciptakan semesta mungil yang mengundangmu untuk menjadi bagian elemennya. Mengagumi kegagahan Bima, terpesona ketampanan tanpa cacat Arjuna atau menyimpan amarah perih Drupadi. Kakimu tak berpijak, imajimu mengambil alih dan kau terbang seperti penyihir.

Wayang-wayang yang sedang kau lihat bukan lagi selembar kulit sapi, melainkan potongan jiwa yang butuh penyatuan. Aku menghidupkannya. Mencipta semestanya. Membunuhi kesatria-kesatria, menghentikan perang, membendung banjir darah dan menentukan nasib semua tokoh. Tapi, aku tak pernah bisa menentukan nasib untuk cintamu.

Di sini nanti tidak akan ada perang dahsyat. Tapi, kau pasti tahu di bagian mana adegan penting itu: aku.

Tentang kebajikan purba yang terlupa. Tentang laga cinta Sri Rama vs Rahwana yang membara, tentang perjudian Pandawa-Kurawa di meja Batarayudha dan tentang lara Kurusetra. Juga kidung agung yang akhirnya si gadis pun terjerembap dalam kubangan pesona. Seperti jaring laba-laba, yang dirajut napas liur di setiap helainya. Berputar. Tak putus. Akhirnya bersumbu pada tahta di bagian tengahnya. Dan akulah poros itu.

Hanya saja, kau tak sadar bahwa dunia terkadang bukan lakon manis yang melulu happy ending. Bahkan tak jarang yang terhempaskan di jurang kepedihan yang tak bisa dimengerti. Kenapa cinta hadir bukan untuk menghidupi? Kenapa keinginan mulia tak selalu dijawab Gusti Allah dengan kata iya saja?

Karena memang cinta tak sesederhana yang kau kira.


  • Oleh: Dalang, sosok dibalik bilik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar