
Aku jatuh cinta. Pada seorang Dalang. Dalang yang hanya bisa aku
pandagi lewat balik kelir. Dalang yang sosoknya hanya terbayang samar,
lewat pantulan blencong yang bergoyang kesana kemari ditiup angin.
Sejak
menyaksikanya pertama kali, aku tak pernah luput hadir dalam setiap
pertunjukanya. Duduk pada bangku yang sama, melihatnya dengan cara yang
sama. Dari sudut yang sama. Selalu sama, seperti pertama kali aku
menyaksikanya tempo lalu. Masih dalam ritme kekaguman yang sama, masih
dalam ketenggengan yang sama setiap kali sosoknya tanpa sengaja
terpantul sedikit lebih jelas dari biasanya.
Aku
jatuh cinta. Kian hari, perasaan itu kian beranak pinak. Tak terhitung
berapa macam rindu cemburu yang telah menggauli nurani sampai saat ini.
Tak terbilang berapa banyak detik yang harus aku bunuh, kala menanti
sang dalang beraksi. Tak terbayang, betapa ingin aku robek bentang putih
itu saking cemburunya aku melihat semua mata memandang pantulannya
penuh minat.
Hari itu, semua rasa membuncah. Tak
lagi mampu aku tanggung. Maka berdirilah aku di balik panggung. Menunggu
sang dalang untuk kembali beraksi. Aku katakan semua. Bahwa aku tengah
jatuh cinta padanya.
Sang dalang hanya tersenyum, lantas bertanya, "Bagaimana bisa? Kenapa kepada saya?"
Aku
hanya bisa tertunduk. Tak bisa kutemukan jawaban-jawaban yang mampu
melegakan sang Dalang. Bagaimana kujelaskan tentang kekagumanku pada
bayang-bayang yang terpantul pada sebatas kain? Bagaimana bisa aku
jelaskan tentang kecintaanku pada liukan jemarinya? Kata apa yang harus
aku pakai untuk menerangkan kecanduanku pada kisah-kisah yang
dilantunkanya? Bagaimana harus kuterangkan tentang sudut-sudut yang sama
itu? Tentang ritme yang tak berubah? Bagaimana bisa aku jelaskan
tentang macam-macam cemburu yang memperkosaku belakangan ini? Tentang
gelisah yang rasanya hampir menelanku bulat-bilat tiap waktu? Bagaimana
harus aku nyatakan betapa ingin aku singkap bentang kain itu? Bagaiamana
caranya? Aku dibuatnya kehilangan kata.
Aku jatuh cinta. Tidakkah itu merangkum segala penjelsan?
Sang
dalang tersenyum sekilas. Mulai angkat bicara. Menjelaskan kondisinya
yang hanya bisa aku dengar samar. Aku terlalu sibuk menyeka apa yang
tiba-tiba mengalir. Dalam isak, aku sanksi sendiri, aku jatuh cinta
padamu, tuan Dalang. Masihkah itu butuh penjelasan? Lalu harus kemana
aku beroleh jawaban untuk melegakanmu? Tidakkah bisa kamu mengerti bahwa
itu pertaruhan sebuah harga diri? Hari itu, anak sungai baru kiranya
akan segera muncul, jika aku tak segera mengakhiri sedu sedan.
Aku
tak pernah lagi datang untuk menyaksikan sang dalang beraksi. Mungkin
nanti, saat aku sudah bisa memaklumi sosok dibalik kelir itu lagi.
Aku hanya berharap, suatu saat, sang Dalang akan menyadari ada yang rumpang dari deretan bangku penonton itu. Dan itu tempatku.
Hai tuan Dalang, tidakkah cintaku begitu sederhana?
- Oleh: Perempuan, di barisan kursi paling depan.
________________________________________
Duh,
Gustiiiiii... Aku tidak pernah ikut serujuk ketika hidup selalu
mendahulukan kepentingan para lelaki. Tetapi, benarkah semesta ini Kau
ciptakan hanya untuk mereka, tanpa menyisakan secuil pun, bahkan
seukuran rambut, bagi sebentuk mimpi wanita biasa, dia, yang ingin
mendapatkan sebentuk cinta sederhana. Tak perlu yang serumit jalinan
satelit.
***
Wayang-wayang yang kau lihat seperti
menjelma hidup. Riwayatnya berkilau, geraknya bernapas dan suaranya
detak jantung. Aku berhasil menciptakan semesta mungil yang mengundangmu
untuk menjadi bagian elemennya. Mengagumi kegagahan Bima, terpesona
ketampanan tanpa cacat Arjuna atau menyimpan amarah perih Drupadi.
Kakimu tak berpijak, imajimu mengambil alih dan kau terbang seperti
penyihir.
Wayang-wayang yang sedang kau lihat bukan lagi
selembar kulit sapi, melainkan potongan jiwa yang butuh penyatuan. Aku
menghidupkannya. Mencipta semestanya. Membunuhi kesatria-kesatria,
menghentikan perang, membendung banjir darah dan menentukan nasib semua
tokoh. Tapi, aku tak pernah bisa menentukan nasib untuk cintamu.
Di sini nanti tidak akan ada perang dahsyat. Tapi, kau pasti tahu di bagian mana adegan penting itu: aku.
Tentang
kebajikan purba yang terlupa. Tentang laga cinta Sri Rama vs Rahwana
yang membara, tentang perjudian Pandawa-Kurawa di meja Batarayudha dan
tentang lara Kurusetra. Juga kidung agung yang akhirnya si gadis pun
terjerembap dalam kubangan pesona. Seperti jaring laba-laba, yang
dirajut napas liur di setiap helainya. Berputar. Tak putus. Akhirnya
bersumbu pada tahta di bagian tengahnya. Dan akulah poros itu.
Hanya
saja, kau tak sadar bahwa dunia terkadang bukan lakon manis yang melulu
happy ending. Bahkan tak jarang yang terhempaskan di jurang kepedihan
yang tak bisa dimengerti. Kenapa cinta hadir bukan untuk menghidupi?
Kenapa keinginan mulia tak selalu dijawab Gusti Allah dengan kata iya
saja?
Karena memang cinta tak sesederhana yang kau kira.
- Oleh: Dalang, sosok dibalik bilik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar