Aku.
Pejalan yang mencari Jabal Rahman.
Lelaki yang dihadapkan pada dosa suci buah khuldi.
Rindu yang kehilangan tulang rusuknya sendiri.
Tangis yang diiris-iris Keris Empu Gandring, Ronggowarsito, dan Sutardji.
Emansipasi cinta bukan paradigma, Nona...
Itu keegoisan manusia pada asmara.
Energi ini bahkan tak akan punya penari latar, kalau saja namamu tak kutulis di Altar.
Nama yang tak akan mampu dibunuh Adolf Hitler, sekalipun dengan Cakra Kresna.
Aku.
Pejalan yang mencari Jabal Rahman.
Lelaki yang menelusuri horizon dengan berat rindu berton-ton.
*) Happy B'day Ar... Maaf, 23 Agustus ini aku tak punya kado spesial buatmu. Tapi bacalah! walau hanya tebalnya saja...
