Jumat, 26 Oktober 2012

Bulan di Mei 2009

Terucap mantra
Dan terpurukku tak bergetar
Terkurung kandang besi lalu terkunci

Kadang serupa ranjang sang mawar
But ... this canvas is empty
When your here before...
You just like an angel

Kini kau mawar tak dapat kutebar

Andai saja kau mau sempatkan waktu
Huruf-huruf ini akan bercerita banyak tentangmu

Jangan!!!

Awan-awan bergerombol. Wajah mereka kelam, seram.

O, Sayang, jangan kau titipkan atau bahkan sekedar menceritakan meski sedikit amarahmu pada mereka. Aku takut, mereka salah paham, lalu dengan geram akan mengayun-ayunkan halilintar, menebar badai. Jika marah dan kau tak mau menyimpan sendiri amarahmu, ceritakan saja pada hatiku.
Jika mampu, akan kusimpan itu.

Sayang

Sayang, dengan sangat hati-hati aku berdiam diri untuk menyerah. Dengan sangat hati-hati juga aku beranikan diri untuk katakan: aku tak sanggup lagi. Dan dengan sangat hati-hati pula, hati ini tertutup. Tertimbun balok-balok beku yang mengutup. Dan inilah hatiku, pada sepi hari yang tanpa nama. Tanpa rupa purnama.
Inilah caraku mencintaimu, Sayang...

Sabtu, 13 Oktober 2012

Kau

Sayang, lihatlah wajahmu! Ada di sajak-sajakku. Tapi jika kata tak jua dapat kaupahami, biar diammu yg kulukisi.

Sayang, anggunlah! Tapi jangan berlama-lama di depanku. Karena rinduku tak tahu caranya malu saat kausipu.


Iya, Sayang... Ini aku! Lelaki yg di dadanya ada cinta yg meribut, ada rindu yg menurut. Bertapalah! Dan jangan terkejut.


Ya! Akulah lelaki itu; yg rusak dan karam di hatimu yg terdalam. Yg serakah memilikimu dg cinta yg paling baka di jagad raya.