Senin, 04 Juni 2012

Ada Cinta di Planet Merah

Kudus; 02 Agustus 2009 - 00:51
Ini bukan soal menyatu dengan Peri bumi… Ini adalah persoalan menempuh kehidupan yang berlapis-lapis, dan mengarungi lautan sekaligus.

"Diary" sangat mungkin ditulis untuk tidak diterbitkan. Kendati kecermatan yang menyartai penulisannya, intensitasnya, sangat kuat (sejauh apa yang dapat dilihat orang melalui terjamahannya) mungkin membuat kita selalu bertanya-tanya.
Atau hanya sebagai produk kepada publik pembaca yang hanya seorang, artinya; 'amanat dari diri _yang_ menulis kepada diri _yang_ membaca'. Atau campuran 'Ganda Sukma' atau 'Spirit Double' yang tak dapat dikembalikan kedalam bentuk apapun. Campuran tentang cara hidup yang asing, dari paduan dan pertabrakan antara memori visual yang berkelana, yang tak cukup jika hanya dihurufkan manjadi pafagraf-paragraf baru yang membingungkan. Gairah yang bukan sekedar kalimat. Dan rasa yang belum sempat menggenapi kata menjadi cerita. Belum lagi tragedi ending yang tak sebanding dengan apa yang tersisa. Tapi semua itu juga bukan alasan atau jawaban. Diary mengambang diantaranya.

Diary bukan sesuatu yang Puas-Diri atau Tidak-Adil, atau tanpa Bela-Rasa. Tidak juga karena hal tersebut, Diary lalu dianggap mengada-ngada, salah, atau kaliru. Karena: Hanya kau yang tahu; Bagaimana kau perlu dan ingin untuk dicintai.

Monday; November 10, 2008 - 05.33
Peristiwa dari sepi menuju sepi, dari kertas menuju kanvas, dipersembahkan pada memori tak terbatas. Dan hadirnya sebuah kebingungan mistis yang romantis tentang letak Venus dikoordinat lintang dan bujur yang belum sempat diberi angka. Yang masih diidam-idamkan. Diendapkan. Dan dilarutkan menjadi gelembung-gelembung cairan lain yang bukan zat kimia atau sejenisnya. Coretan-coretan yang membentuk garis- garis wajah, dan nama-nama Fatimah, yang tak bisa dirumuskan fisika atau matematika oleh Einstein sekalipun. Bahkan Thomas Alva Edison pun tak akan bisa menjelaskan aliran listrik apa yang kuat merambat pada hati yang tak mempunyai unsur konduktor dan isolator ini. Suara kekasih yang bukan minor, bukan juga mayor, yang tak terekam oleh fonograf, dan gambar yang tak bisa ditampung kinetograf atau kinetoskop. Yang pasti bukan gambar animasi yang pernah dibuat oleh Walt Disney.

Setiap orang mencari sesuatu yang bisa membuatnya menjadi lebih lengkap. Sebagian orang menemukannya di titik koordinat Venus atau Mars, entah dinominal drajat ke berapa. Sebagian lagi di Cinderella's story, dengan seharap kuda putih itu benar- benar ada dan datang untuknya. Ada juga yang menemukannya di sebuah janji yang tak pernah diinginkan hati. Berpura-pura menjadi Barbie sebelum dimengerti, sebelum dimulai, sebelum dicintai. Dan tak sengaja ikut bergerak dirambat kecepatan cahaya untuk cinta. Mendengar suara bumi yang menunjukkan bagaimana awalnya burung mulai terbang. Semua tanda-tanda itu … menuntut agar John Logie Baird merancang televisi yang mampu menampilkan sebesar apa cinta dalam bentuk visual. Tapi cinta bukan diciptakan dari komponen elektronik. Cinta adalah kombinasi transmitter dan receiver yang mampu menangkap gelombang frekwensi sinus terus-menerus dalam satuan Hertz terbesar. Dan menghasilkan arus electron saat Venus dan Mars berdekatan. Sehingga menciptakan medan magnet yang tak hanya mampu mengubah arah kompas. Ukuran voltage-nya yang tak terukur avometer membuat hati mengalami fluktuasi dalam setiap kondisi yang tak terkatagori.

Tak terlupakan! Itulah dia. Tak terlupakan dengan semua cara. Itulah sebabnya kenapa rasa itu begitu menakjubkan, dan ajaib, bukan?

Membuat hard cover dalam bentuk hati untuk melindungi wajah kasih dari bakteri. Mengacak-acak isi lemari sekedar mencari sesobek kertas untuk menuliskan rindu pada puisi. Meneriakkan suara dengan delapan not pada scale mayor dan didampingi bunyi gitar. Pada olah vocal yang tak berpengalaman. Yang kemresek. Berisik. Tapi cinta sama sekali tak terusik. Mengubah emosi yang diam dalam bentuk garis lengkung di atas kanvas untuk senyum Monalisa dan kerutan di sekitar matanya. Ooo, indahnya … andai saja NASA mampu bertahan lebih lama di planet Mars (yang hanya 687 hari), dan pergi ke planet Venus untuk sekedar mangatakan bahwa: Ada Cinta di Planet Merah.

Tapi sayangnya, sudah terlalu banyak love story yang mengisi kapasitas memori. Mungkin cukuplah disimpan dalam satu keping CD-ROOM, meski semuanya belum terangkum dalam Megabyte selengkung senyum.

Saat kata tak menemukan maknanya …
Menunggu rasa dan tenggelam dalam duduk yang membosankan. Mengejar-ngejar cinta di malam hari. Dan sekarang tersisa kesatuan detik yang tak lagi peduli pada impian yang tak terimpikan. Pada air mata yang seharusnya tak terlihat oleh hati yang sederhana. Oleh kesepian yang menakutkan. Memohon. Meminjam, dan mencuri hati permaisuri dari mimpi.

Ya, semuanya terserah kamu! Pilih dan tentukan mana yang kau mau. Lalu tekan tombol ENTER dari keyboard itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar