Kudus; 02 Agustus 2009 - 00:51
Ini bukan soal
menyatu dengan Peri bumi… Ini adalah persoalan menempuh kehidupan yang
berlapis-lapis, dan mengarungi lautan sekaligus.
"Diary"
sangat mungkin ditulis untuk tidak diterbitkan. Kendati kecermatan yang
menyartai penulisannya, intensitasnya, sangat kuat (sejauh apa yang
dapat dilihat orang melalui terjamahannya) mungkin membuat kita selalu
bertanya-tanya.
Atau hanya sebagai produk kepada publik pembaca
yang hanya seorang, artinya; 'amanat dari diri _yang_ menulis kepada
diri _yang_ membaca'. Atau campuran 'Ganda Sukma' atau 'Spirit Double'
yang tak dapat dikembalikan kedalam bentuk apapun. Campuran tentang cara
hidup yang asing, dari paduan dan pertabrakan antara memori visual yang
berkelana, yang tak cukup jika hanya dihurufkan manjadi
pafagraf-paragraf baru yang membingungkan. Gairah yang bukan sekedar
kalimat. Dan rasa yang belum sempat menggenapi kata menjadi cerita.
Belum lagi tragedi ending yang tak sebanding dengan apa yang tersisa.
Tapi semua itu juga bukan alasan atau jawaban. Diary mengambang
diantaranya.
Diary bukan sesuatu yang Puas-Diri atau
Tidak-Adil, atau tanpa Bela-Rasa. Tidak juga karena hal tersebut, Diary
lalu dianggap mengada-ngada, salah, atau kaliru. Karena: Hanya kau yang tahu; Bagaimana kau perlu dan ingin untuk dicintai.
Monday; November 10, 2008 - 05.33
Peristiwa
dari sepi menuju sepi, dari kertas menuju kanvas, dipersembahkan pada
memori tak terbatas. Dan hadirnya sebuah kebingungan mistis yang
romantis tentang letak Venus dikoordinat lintang dan bujur yang belum
sempat diberi angka. Yang masih diidam-idamkan. Diendapkan. Dan
dilarutkan menjadi gelembung-gelembung cairan lain yang bukan zat kimia
atau sejenisnya. Coretan-coretan yang membentuk garis- garis wajah, dan
nama-nama Fatimah, yang tak bisa dirumuskan fisika atau matematika oleh
Einstein sekalipun. Bahkan Thomas Alva Edison pun tak akan bisa
menjelaskan aliran listrik apa yang kuat merambat pada hati yang tak
mempunyai unsur konduktor dan isolator ini. Suara kekasih yang bukan
minor, bukan juga mayor, yang tak terekam oleh fonograf, dan gambar yang
tak bisa ditampung kinetograf atau kinetoskop. Yang pasti bukan gambar
animasi yang pernah dibuat oleh Walt Disney.
Setiap orang
mencari sesuatu yang bisa membuatnya menjadi lebih lengkap. Sebagian
orang menemukannya di titik koordinat Venus atau Mars, entah dinominal
drajat ke berapa. Sebagian lagi di Cinderella's story, dengan seharap
kuda putih itu benar- benar ada dan datang untuknya. Ada juga yang
menemukannya di sebuah janji yang tak pernah diinginkan hati.
Berpura-pura menjadi Barbie sebelum dimengerti, sebelum dimulai, sebelum
dicintai. Dan tak sengaja ikut bergerak dirambat kecepatan cahaya untuk
cinta. Mendengar suara bumi yang menunjukkan bagaimana awalnya burung
mulai terbang. Semua tanda-tanda itu … menuntut agar John Logie Baird
merancang televisi yang mampu menampilkan sebesar apa cinta dalam bentuk
visual. Tapi cinta bukan diciptakan dari komponen elektronik. Cinta
adalah kombinasi transmitter dan receiver yang mampu menangkap gelombang
frekwensi sinus terus-menerus dalam satuan Hertz terbesar. Dan
menghasilkan arus electron saat Venus dan Mars berdekatan. Sehingga
menciptakan medan magnet yang tak hanya mampu mengubah arah kompas.
Ukuran voltage-nya yang tak terukur avometer membuat hati mengalami
fluktuasi dalam setiap kondisi yang tak terkatagori.
Tak
terlupakan! Itulah dia. Tak terlupakan dengan semua cara. Itulah
sebabnya kenapa rasa itu begitu menakjubkan, dan ajaib, bukan?
Membuat
hard cover dalam bentuk hati untuk melindungi wajah kasih dari bakteri.
Mengacak-acak isi lemari sekedar mencari sesobek kertas untuk
menuliskan rindu pada puisi. Meneriakkan suara dengan delapan not pada
scale mayor dan didampingi bunyi gitar. Pada olah vocal yang tak
berpengalaman. Yang kemresek. Berisik. Tapi cinta sama sekali tak
terusik. Mengubah emosi yang diam dalam bentuk garis lengkung di atas
kanvas untuk senyum Monalisa dan kerutan di sekitar matanya. Ooo,
indahnya … andai saja NASA mampu bertahan lebih lama di planet Mars
(yang hanya 687 hari), dan pergi ke planet Venus untuk sekedar
mangatakan bahwa: Ada Cinta di Planet Merah.
Tapi
sayangnya, sudah terlalu banyak love story yang mengisi kapasitas
memori. Mungkin cukuplah disimpan dalam satu keping CD-ROOM, meski
semuanya belum terangkum dalam Megabyte selengkung senyum.
Saat kata tak menemukan maknanya …
Menunggu
rasa dan tenggelam dalam duduk yang membosankan. Mengejar-ngejar cinta
di malam hari. Dan sekarang tersisa kesatuan detik yang tak lagi peduli
pada impian yang tak terimpikan. Pada air mata yang seharusnya tak
terlihat oleh hati yang sederhana. Oleh kesepian yang menakutkan.
Memohon. Meminjam, dan mencuri hati permaisuri dari mimpi.
Ya, semuanya terserah kamu! Pilih dan tentukan mana yang kau mau. Lalu tekan tombol ENTER dari keyboard itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar