Jumat, 15 Juni 2012

Rayna IV

Dia perempuanku.
Yang namanya ku tulis di kubah mendung dg huruf api Phoenix.
Nama yg dibungkus udara, didesahi angin, ditiupi topan, lalu dijeritkan guntur.
Nama yg dielu-elukan Wisnu saat hujan.

Dia perempuanku.
Yang namanya ku tulis di kubah mendung dg huruf api Phoenix.
Namanya Rayna.
Yang hatinya ku lamar dengan cincin yang ku curi dari Saturnus.

Dia perempuanku.
Yang memesan goresan cinta bergambar mawar.
Namanya Rayna.
Rayna saja.

Senin, 04 Juni 2012

Ada Cinta di Planet Merah

Kudus; 02 Agustus 2009 - 00:51
Ini bukan soal menyatu dengan Peri bumi… Ini adalah persoalan menempuh kehidupan yang berlapis-lapis, dan mengarungi lautan sekaligus.

"Diary" sangat mungkin ditulis untuk tidak diterbitkan. Kendati kecermatan yang menyartai penulisannya, intensitasnya, sangat kuat (sejauh apa yang dapat dilihat orang melalui terjamahannya) mungkin membuat kita selalu bertanya-tanya.
Atau hanya sebagai produk kepada publik pembaca yang hanya seorang, artinya; 'amanat dari diri _yang_ menulis kepada diri _yang_ membaca'. Atau campuran 'Ganda Sukma' atau 'Spirit Double' yang tak dapat dikembalikan kedalam bentuk apapun. Campuran tentang cara hidup yang asing, dari paduan dan pertabrakan antara memori visual yang berkelana, yang tak cukup jika hanya dihurufkan manjadi pafagraf-paragraf baru yang membingungkan. Gairah yang bukan sekedar kalimat. Dan rasa yang belum sempat menggenapi kata menjadi cerita. Belum lagi tragedi ending yang tak sebanding dengan apa yang tersisa. Tapi semua itu juga bukan alasan atau jawaban. Diary mengambang diantaranya.

Diary bukan sesuatu yang Puas-Diri atau Tidak-Adil, atau tanpa Bela-Rasa. Tidak juga karena hal tersebut, Diary lalu dianggap mengada-ngada, salah, atau kaliru. Karena: Hanya kau yang tahu; Bagaimana kau perlu dan ingin untuk dicintai.

Monday; November 10, 2008 - 05.33
Peristiwa dari sepi menuju sepi, dari kertas menuju kanvas, dipersembahkan pada memori tak terbatas. Dan hadirnya sebuah kebingungan mistis yang romantis tentang letak Venus dikoordinat lintang dan bujur yang belum sempat diberi angka. Yang masih diidam-idamkan. Diendapkan. Dan dilarutkan menjadi gelembung-gelembung cairan lain yang bukan zat kimia atau sejenisnya. Coretan-coretan yang membentuk garis- garis wajah, dan nama-nama Fatimah, yang tak bisa dirumuskan fisika atau matematika oleh Einstein sekalipun. Bahkan Thomas Alva Edison pun tak akan bisa menjelaskan aliran listrik apa yang kuat merambat pada hati yang tak mempunyai unsur konduktor dan isolator ini. Suara kekasih yang bukan minor, bukan juga mayor, yang tak terekam oleh fonograf, dan gambar yang tak bisa ditampung kinetograf atau kinetoskop. Yang pasti bukan gambar animasi yang pernah dibuat oleh Walt Disney.

Setiap orang mencari sesuatu yang bisa membuatnya menjadi lebih lengkap. Sebagian orang menemukannya di titik koordinat Venus atau Mars, entah dinominal drajat ke berapa. Sebagian lagi di Cinderella's story, dengan seharap kuda putih itu benar- benar ada dan datang untuknya. Ada juga yang menemukannya di sebuah janji yang tak pernah diinginkan hati. Berpura-pura menjadi Barbie sebelum dimengerti, sebelum dimulai, sebelum dicintai. Dan tak sengaja ikut bergerak dirambat kecepatan cahaya untuk cinta. Mendengar suara bumi yang menunjukkan bagaimana awalnya burung mulai terbang. Semua tanda-tanda itu … menuntut agar John Logie Baird merancang televisi yang mampu menampilkan sebesar apa cinta dalam bentuk visual. Tapi cinta bukan diciptakan dari komponen elektronik. Cinta adalah kombinasi transmitter dan receiver yang mampu menangkap gelombang frekwensi sinus terus-menerus dalam satuan Hertz terbesar. Dan menghasilkan arus electron saat Venus dan Mars berdekatan. Sehingga menciptakan medan magnet yang tak hanya mampu mengubah arah kompas. Ukuran voltage-nya yang tak terukur avometer membuat hati mengalami fluktuasi dalam setiap kondisi yang tak terkatagori.

Tak terlupakan! Itulah dia. Tak terlupakan dengan semua cara. Itulah sebabnya kenapa rasa itu begitu menakjubkan, dan ajaib, bukan?

Membuat hard cover dalam bentuk hati untuk melindungi wajah kasih dari bakteri. Mengacak-acak isi lemari sekedar mencari sesobek kertas untuk menuliskan rindu pada puisi. Meneriakkan suara dengan delapan not pada scale mayor dan didampingi bunyi gitar. Pada olah vocal yang tak berpengalaman. Yang kemresek. Berisik. Tapi cinta sama sekali tak terusik. Mengubah emosi yang diam dalam bentuk garis lengkung di atas kanvas untuk senyum Monalisa dan kerutan di sekitar matanya. Ooo, indahnya … andai saja NASA mampu bertahan lebih lama di planet Mars (yang hanya 687 hari), dan pergi ke planet Venus untuk sekedar mangatakan bahwa: Ada Cinta di Planet Merah.

Tapi sayangnya, sudah terlalu banyak love story yang mengisi kapasitas memori. Mungkin cukuplah disimpan dalam satu keping CD-ROOM, meski semuanya belum terangkum dalam Megabyte selengkung senyum.

Saat kata tak menemukan maknanya …
Menunggu rasa dan tenggelam dalam duduk yang membosankan. Mengejar-ngejar cinta di malam hari. Dan sekarang tersisa kesatuan detik yang tak lagi peduli pada impian yang tak terimpikan. Pada air mata yang seharusnya tak terlihat oleh hati yang sederhana. Oleh kesepian yang menakutkan. Memohon. Meminjam, dan mencuri hati permaisuri dari mimpi.

Ya, semuanya terserah kamu! Pilih dan tentukan mana yang kau mau. Lalu tekan tombol ENTER dari keyboard itu.

Areena I

Atas nama Areena ...
Ratu mengemas pesonanya dalam bentuk hati di sana-sini.
Iring-iringan panah Arjuna menusuki mendung menetaskan petir.
Mengheningi cinta ...
Mengharumi luka ...
Di atas nama Areena.

Semesta Mungil Tanpa Keraton

Aku jatuh cinta. Pada seorang Dalang. Dalang yang hanya bisa aku pandagi lewat balik kelir. Dalang yang sosoknya hanya terbayang samar, lewat pantulan blencong yang bergoyang kesana kemari ditiup angin.

Sejak menyaksikanya pertama kali, aku tak pernah luput hadir dalam setiap pertunjukanya. Duduk pada bangku yang sama, melihatnya dengan cara yang sama. Dari sudut yang sama. Selalu sama, seperti pertama kali aku menyaksikanya tempo lalu. Masih dalam ritme kekaguman yang sama, masih dalam ketenggengan yang sama setiap kali sosoknya tanpa sengaja terpantul sedikit lebih jelas dari biasanya.

Aku jatuh cinta. Kian hari, perasaan itu kian beranak pinak. Tak terhitung berapa macam rindu cemburu yang telah menggauli nurani sampai saat ini. Tak terbilang berapa banyak detik yang harus aku bunuh, kala menanti sang dalang beraksi. Tak terbayang, betapa ingin aku robek bentang putih itu saking cemburunya aku melihat semua mata memandang pantulannya penuh minat.

Hari itu, semua rasa membuncah. Tak lagi mampu aku tanggung. Maka berdirilah aku di balik panggung. Menunggu sang dalang untuk kembali beraksi. Aku katakan semua. Bahwa aku tengah jatuh cinta padanya.

Sang dalang hanya tersenyum, lantas bertanya, "Bagaimana bisa? Kenapa kepada saya?"

Aku hanya bisa tertunduk. Tak bisa kutemukan jawaban-jawaban yang mampu melegakan sang Dalang.  Bagaimana kujelaskan tentang kekagumanku pada bayang-bayang yang terpantul pada sebatas kain? Bagaimana bisa aku jelaskan tentang kecintaanku pada liukan jemarinya? Kata apa yang harus aku pakai untuk menerangkan kecanduanku pada kisah-kisah yang dilantunkanya? Bagaimana harus kuterangkan tentang sudut-sudut yang sama itu? Tentang ritme yang tak berubah? Bagaimana bisa aku jelaskan tentang macam-macam cemburu yang memperkosaku belakangan ini? Tentang gelisah yang rasanya hampir menelanku bulat-bilat tiap waktu? Bagaimana harus aku nyatakan betapa ingin aku singkap bentang kain itu? Bagaiamana caranya? Aku dibuatnya kehilangan kata.

Aku jatuh cinta. Tidakkah itu merangkum segala penjelsan?

Sang dalang tersenyum sekilas. Mulai angkat bicara. Menjelaskan kondisinya yang hanya bisa aku dengar samar. Aku terlalu sibuk menyeka apa yang tiba-tiba mengalir.  Dalam isak, aku sanksi sendiri, aku jatuh cinta padamu, tuan Dalang. Masihkah itu butuh penjelasan? Lalu harus kemana aku beroleh jawaban untuk melegakanmu? Tidakkah bisa kamu mengerti bahwa itu pertaruhan sebuah harga diri? Hari itu, anak sungai baru kiranya akan segera muncul, jika aku tak segera mengakhiri sedu sedan.

Aku tak pernah lagi datang untuk menyaksikan sang dalang beraksi. Mungkin nanti, saat aku sudah bisa memaklumi sosok dibalik kelir itu lagi.

Aku hanya berharap, suatu saat, sang Dalang akan menyadari ada yang rumpang dari deretan bangku penonton itu. Dan itu tempatku.

Hai tuan Dalang, tidakkah cintaku begitu sederhana?


  • Oleh: Perempuan, di barisan kursi paling depan.

________________________________________

Duh, Gustiiiiii... Aku tidak pernah ikut serujuk ketika hidup selalu mendahulukan kepentingan para lelaki. Tetapi, benarkah semesta ini Kau ciptakan hanya untuk mereka, tanpa menyisakan secuil pun, bahkan seukuran rambut, bagi sebentuk mimpi wanita biasa, dia, yang ingin mendapatkan sebentuk cinta sederhana. Tak perlu yang serumit jalinan satelit.

***
Wayang-wayang yang kau lihat seperti menjelma hidup. Riwayatnya berkilau, geraknya bernapas dan suaranya detak jantung. Aku berhasil menciptakan semesta mungil yang mengundangmu untuk menjadi bagian elemennya. Mengagumi kegagahan Bima, terpesona ketampanan tanpa cacat Arjuna atau menyimpan amarah perih Drupadi. Kakimu tak berpijak, imajimu mengambil alih dan kau terbang seperti penyihir.

Wayang-wayang yang sedang kau lihat bukan lagi selembar kulit sapi, melainkan potongan jiwa yang butuh penyatuan. Aku menghidupkannya. Mencipta semestanya. Membunuhi kesatria-kesatria, menghentikan perang, membendung banjir darah dan menentukan nasib semua tokoh. Tapi, aku tak pernah bisa menentukan nasib untuk cintamu.

Di sini nanti tidak akan ada perang dahsyat. Tapi, kau pasti tahu di bagian mana adegan penting itu: aku.

Tentang kebajikan purba yang terlupa. Tentang laga cinta Sri Rama vs Rahwana yang membara, tentang perjudian Pandawa-Kurawa di meja Batarayudha dan tentang lara Kurusetra. Juga kidung agung yang akhirnya si gadis pun terjerembap dalam kubangan pesona. Seperti jaring laba-laba, yang dirajut napas liur di setiap helainya. Berputar. Tak putus. Akhirnya bersumbu pada tahta di bagian tengahnya. Dan akulah poros itu.

Hanya saja, kau tak sadar bahwa dunia terkadang bukan lakon manis yang melulu happy ending. Bahkan tak jarang yang terhempaskan di jurang kepedihan yang tak bisa dimengerti. Kenapa cinta hadir bukan untuk menghidupi? Kenapa keinginan mulia tak selalu dijawab Gusti Allah dengan kata iya saja?

Karena memang cinta tak sesederhana yang kau kira.


  • Oleh: Dalang, sosok dibalik bilik.

Ya Syaikhona

Dalam pelukan subuh yang masih perawan
Aku mencuri seikat ingatan yang kalian waqafkan pada kenangan
Dalam wadah fana yang dibatas-batasi:
Dikafani zaman Madlii
Dibekap zaman Halii
Dan disembunyikan zaman Istiqbalii
Kusimpan ingatan itu dalam bingkai raksasa bernama do'a
Meski tanpa lafadh yang murokkab
Meski tanpa ucapan yang mufid
Meski tanpa niat yang wadlo'
Tak kelu kuucap namamu satu persatu
Dalam semesta isim yang tak terkategori waktu

Dalam kidung yang rumekso ing wengi
Kuhadirkan luka pada getirnya petir yang mereka sebut takdir
Ingatkah kalian?
Saat kita bersama-sama menidurkan purnama yang insomnia
Membaringkan peluh pada ranjang tembang-tembang, kembang-kembang
Kita melubangi ruang
Hanya untuk tahu, bahwa ada sepaket bibir yang selalu rindu mengecup tanganmu satu persatu
Ada serombongan do'a berjubah Ibrahim yang melindungimu dari berbagai musim
Walau Sungai Nil terbelah
Walau Laut Merah tumpah ruah karena marah
You and me together
Forever
Manunggal dalam wujud kangen yang terpenggal-penggal
K. H. Ma'ruf Irsyad (Kudus)

Inilah ingatan yang kucuri itu, ya Syaikhonaa...
Yang kusimpan dalam Bahtera Raksasa Nabi Nuh
Yang kusisipkan di antara bumi dan langit tujuh
Yang kutitipkan pada jagad raya dan dijaga para dewa-dewa
Yang diturunkan Malaikat Mikail jika nanti rinduku memanggil-manggil

Inilah ingatan yang kucuri itu, ya Syaikhonaa...
Ini saja yang ada

Selebihnya hanya DO'A


Papua - Dulhijjah, 1432


* Sesembahan khusus kagem:
Alm. Mbah Kyai H. M. Ma'ruf Irsyad, Alm. Bapak Muqorrobun dan Guru-guru yang lebih dulu meninggalkan kita.

Minggu, 03 Juni 2012

Rayna II

Aku begitu mengenal wajahmu, tujuh tahun yang lalu. Tujuh tahun telah berlalu lalu aku tak bisa mendeskripsikan seperti apa wajahmu sekarang. Apakah masih seperti dulu? Apakah waktu telah mengubah wajahmu?

Kau selalu saja misterius. Seperti Subcomandante Elisa. Wajahnya pun tak bisa ditemukan di mesin Google. Tak seperti Subcomandante Marcos yang wajahnya banyak terpampang di kaos para demonstran meski hanya sebatas alis dan mata, sisanya tertutup baret ala Guevara dan penutup muka berwarna kelam.

Alis dan mata. Ya, kau lebih mirip seperti Subcomandante Marcos, bisa terkenal tanpa harus dikenal. Hanya menunjukkan alis tebal dan mata. Sisanya tertutup scarf atau... emmm... atau malah tertutup kamera? Entahlah...

Tapi kau tidak tinggal di Mexico seperti Subcomandante Marcos atau Subcomandante Elisa, bukan? Kau tinggal di Praha, kan? Iya, kan? Apakah di Praha turun hujan deras seperti di sini? Atau mungkin kau bermukim di hati seseorang? Apakah kau bahagia di sana? Jangan khawatir, sayang... Bukankah kau sendiri yang selalu bilang padaku, "Rain always brings a hero". Iya kan? Kau masih ingat mendung tujuh tahun yang lalu, sayang? Wajahnya tidak berubah di hari ini.
Pucat sekali.


Semoga kau selalu bahagia di sana. Maaf, kalau do'aku hanya : SEMOGA.

Catatan Terakhir

Karena kita adalah pecinta dan sekaligus pernah menjalin kasih, maka ingin kuucapkan padamu: catatan ini lahir karena hadirmu, oleh luapan rindu, kegelisahan atau kebahagiaan yang di suatu waktu -yang dulu- pernah kamu kirimkan padaku. Lalu dengan kekerdilanku, aku mencoba meraba-raba keelokkan itu untuk kusimpan di hening mata sang jiwa.

Ini adalah jarum jam yang sama, yang pernah menghampiri kita, yang sejanak kita ikut bersamanya, hingga tercipta denting-denting kerinduan yang menakutiku, yang tak ingin kulupakan begitu saja.

Ketika hadirmu adalah ejawantah dari sang kekasih dan kupercaya ada keindahan di dalamnya, yang tak bisa kubuang dengan seenaknya adalah keyakinan tentang adanya dongeng singkat yang pernah lepas dari sepotong pertemuan kita.

Kadang aku menyukai kejauhan ini. Karena ada rindu yang dapat kujumpai di sana. Tapi terkadang hasrat hati memohonkan diriku untuk mendekat di sisimu.

Lamanya kamu kuanggap sebagai kekasih membuatku menikmati kangen ini sendiri. Hanya aku. Tanpa merka tahu. Hanya kamu yang ditunggu-tunggu serdadu-serdadu rindu itu.

Siapa pun kamu sekarang, itu tidaklah penting bagiku. Aku hanya menganggapmu sebagai kekasih. Entah sampai kapan. Entah kamu menyadarinya atau tidak.

Aku tahu aku mencintaimu. Terlalu mencintaimu. Tapi aku harus berani menyadari bahwa kamu tak akan pernah pulang untuk keratonku yang sekarang.

Terimakasih atas banyak atau sedikit waktu yang pernah kamu berikan, meski tetap sebagai sepotong atau sepenggal dalam waktu di sisa nafasku. Terimakasih, sayang... dan maafkan aku.

Begitu lamanya aku mencintaimu, wahai perempuanku. Di setiap suara nadi, suaramu juga ada di situ. Kamulah keelokkan yang datangi sunyi hariku. Walau hanya sedikit harum yang dapat kucium. Kamulah hawa sejuk untuk sesak paru-paruku. Kamulah hembus nafas yang membunuh gerah di galaksi tak beratmosfirku. Kamulah nyanyian kunang di malam berharmoni sunyi. Kamulah sudut yang membungkus cintaku berkardus-kardus... plus bonus: kamu. Kamulah tawa manja perempuanku yang kukenang sepanjang siang, sekaligus menjadi getirnya petir yang menyambar-nyambar saat kamu hanya berupa gambar-gambar dalam otak miniku. Dan tangis kubawa pulang untuk harap kosong tang terus menodong.

Ampunilah perasaan ini yang masih ada, yang masih memandang-mandangi wajahmu dalam damba. Entahlah... tapi bagaimana pun itu, kamu tetap sebagai perempuan yang membuatku merasakan keindahan itu. Dan satu lagi, sebuah ketidakmungkinan yang tak bisa kujinakkan. Karena aku mencintaimu. Terlalu mencintaimu.

Rayna

Sayang, dengan sangat hati-hati aku berdiam diri untuk menyerah. Dengan sangat hati-hati juga aku beranikan diri untuk katakan: aku tak sanggup lagi. Dan dengan sangat hati-hati pula, hati ini tertutup. Tertimbun balok-balok beku yang mengutup. Dan inilah hatiku, pada sepi hari yang tanpa nama. Tanpa purnama. Apa adanya.

Inilah caraku mencintaimu, sayangku...

Sabtu, 02 Juni 2012

Areena II

Andai kau tau, apa yg dibawa kupu-kupu pada udara yg menjadikannya badai.
Resahmu tak kan kunjung berujung.
Itu luka srigala yg dirobek-robek purnama, sayang...
Nyanyian gagak dalam dering-dering monoton ringtone asmaradana yg asyik menonton.
Andai kau tahu, cinta siapa saja yg membatu karena pesona Medusa di kuil Athena.
Aku salah satunya.

*(Bacalah, walau hanya 'awalnya' saja)