Karena kita adalah pecinta
dan sekaligus pernah menjalin kasih, maka ingin kuucapkan padamu:
catatan ini lahir karena hadirmu, oleh luapan rindu, kegelisahan atau
kebahagiaan yang di suatu waktu -yang dulu- pernah kamu kirimkan padaku.
Lalu dengan kekerdilanku, aku mencoba meraba-raba keelokkan itu untuk
kusimpan di hening mata sang jiwa.
Ini adalah jarum jam yang
sama, yang pernah menghampiri kita, yang sejanak kita ikut bersamanya,
hingga tercipta denting-denting kerinduan yang menakutiku, yang tak
ingin kulupakan begitu saja.
Ketika hadirmu adalah ejawantah dari
sang kekasih dan kupercaya ada keindahan di dalamnya, yang tak bisa
kubuang dengan seenaknya adalah keyakinan tentang adanya dongeng singkat
yang pernah lepas dari sepotong pertemuan kita.
Kadang aku
menyukai kejauhan ini. Karena ada rindu yang dapat kujumpai di sana.
Tapi terkadang hasrat hati memohonkan diriku untuk mendekat di sisimu.
Lamanya
kamu kuanggap sebagai kekasih membuatku menikmati kangen ini sendiri.
Hanya aku. Tanpa merka tahu. Hanya kamu yang ditunggu-tunggu
serdadu-serdadu rindu itu.
Siapa pun kamu sekarang, itu tidaklah
penting bagiku. Aku hanya menganggapmu sebagai kekasih. Entah sampai
kapan. Entah kamu menyadarinya atau tidak.
Aku tahu aku
mencintaimu. Terlalu mencintaimu. Tapi aku harus berani menyadari bahwa
kamu tak akan pernah pulang untuk keratonku yang sekarang.
Terimakasih
atas banyak atau sedikit waktu yang pernah kamu berikan, meski tetap
sebagai sepotong atau sepenggal dalam waktu di sisa nafasku.
Terimakasih, sayang... dan maafkan aku.
Begitu lamanya aku
mencintaimu, wahai perempuanku. Di setiap suara nadi, suaramu juga ada
di situ. Kamulah keelokkan yang datangi sunyi hariku. Walau hanya
sedikit harum yang dapat kucium. Kamulah hawa sejuk untuk sesak
paru-paruku. Kamulah hembus nafas yang membunuh gerah di galaksi tak
beratmosfirku. Kamulah nyanyian kunang di malam berharmoni sunyi.
Kamulah sudut yang membungkus cintaku berkardus-kardus... plus bonus:
kamu. Kamulah tawa manja perempuanku yang kukenang sepanjang siang,
sekaligus menjadi getirnya petir yang menyambar-nyambar saat kamu hanya
berupa gambar-gambar dalam otak miniku. Dan tangis kubawa pulang untuk
harap kosong tang terus menodong.
Ampunilah perasaan ini yang
masih ada, yang masih memandang-mandangi wajahmu dalam damba.
Entahlah... tapi bagaimana pun itu, kamu tetap sebagai perempuan yang
membuatku merasakan keindahan itu. Dan satu lagi, sebuah
ketidakmungkinan yang tak bisa kujinakkan. Karena aku mencintaimu.
Terlalu mencintaimu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar